Sabtu, 31 Mei 2014

asuhan keperawatan dasar dengan diagnosa demam thypoid



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Demam  thypoid  merupakan salah satu penyakit infeksi endemis di Asia, Afrika, Amerika latin, Karibia, Oceania dan jarang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa. Menurut data WHO, terdapat 16 juta hingga 30 juta kasus thypoid di seluruh dunia dan diperkirakan  sekitar 500,000 orang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit ini. Asia menempati urutan tertinggi pada kasus thypoid ini, dan terdapat 13 juta kasus dengan 400,000 kematian setiap tahunnya.
Kasus thypoid diderita oleh anak-anak sebesar 91% berusia 3-19 tahun dengan angka kematian 20.000 per tahunnya. Di Indonesia, 14% demam enteris disebabkan oleh Salmonella Parathypii A.Di daerah jawa barat penderita penyakit typoid mencapai 154 kasus per 100.000 penduduk. Dan di wilayah bogor sendiri mencapai 32 kasus per 100.000 penduduk.  Dari tahun 2013 sampai sekarang penderita penyakit typoid di RSUD CIBINONG  mencapai hampir 1120 orang dan angka kematiannya sekitar 300 orang pertahunnya.Demam tifoid pada masyarakat dengan standar hidup dan kebersihan rendah,cenderung meningkat dan terjadi secara endemis. Biasanya angka kejadian tinggi pada daerah tropik dibandingkan daerah berhawa dingin. Penyakit ini banyak diderita oleh anak-anak, namun tidak menutup kemungkinan untuk orang dewasa. Penyebabnya adalah kuman sallmonela thypi atau sallmonela paratypi A, B dan C. Penyakit typhus abdominallis sangat cepat penularanya yaitu melalui kontak dengan seseorang yang menderita penyakit typhus, kurangnya kebersihan pada minuman dan makanan, susu dan tempat susu yang kurang kebersihannya menjadi tempat untuk pembiakan bakteri salmonella, pembuangan kotoran yang tak memenuhi syarat dan kondisi saniter yang tidak sehat menjadi faktor terbesar dalam penyebaran penyakit typhus.
Sekarang ini penyakit typhus abdominalis masih merupakan  masalah yang penting bagi anak dan masih menduduki masalah yang penting dalam prevalensi penyakit menular. Hal ini disebabkan  faktor hygiene dan sanitasi yang kurang, masih memegang peranan yang tidak habis diatas satu tahun, maka memerlukan perawatan yang khusus karena anak ini masih dalam taraf  perkembangan dan pertumbuhan. Dalam hal ini perawatan dirumah sakit sangat dianjurkan untuk mendapatkan perawatan isolasi untuk mencegah komplikasi yang lebih berat (Suharyo hadisaputro, 1989, dan Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 1985).

1.2  Tujuan Penulisan
1.      Tujuan Umum
Agar penulis dapat  melakukan Asuhan Keperawatan Dasar pada kien Tn. S dengan “Thypoid” di ruang Flamboyan kelas III Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong
2.      Tujuan Khusus
Laporan Asuhan Keperawatan Dasar disusun dengan tujuan agar penulis diharapkan mampu :
1.      Melakukan pengkajian pada klien Tn. S dengan “Thypoid”.
2.      Melakukan Analisa Data pada klien Tn.S dengan “Thypoid”.
3.      Merumuskan Diagnosa Keperawatan  berdasarkan prioritas pada klien Tn. S dengan “Thypoid”.
4.      Merencanakan Asuhan Keperawatan Dasar pada klien Tn. S dengan “Thypoid”.
5.      Melakukan tindakan Asuhan Keperawatan Dasar pada klien Tn. S dengan “Thypoid”.
6.      Mengevaluasi tindakan keperawatan pada klien Tn. S dengan “Thypoid”.

1.3  Metode Penulisan
Dalam  penulisan Laporan Asuhan Keperawatan Dasar ini, data/informasi di dapat dengan cara :
a.       Melakukan observasi Asuhan Keperawatan  kepada  pasien Tn. S dengan diagnosa Thypoid  di ruang Rawat Inap Flamboyan Kelas III Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong.
b.      Melakukan wawancara klien selama 3 hari, terhitung dari tanggal 03 april 2014 sampai 05 april 2014
c.       Dalam penulisan Laporan Asuhan Keperawatan Dasar ini, penulis mengambil materi dari beberapa sumber.


1.4  Sistematika Penulisan
BAB I      : PENDAHULUAN
Pendahuluan terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan serta sistematika penulisan.
BAB II     : TINJAUAN TEORITIS
Tinjauan Teoritis yang memuat konsep dasar penyakit, meliputi Definisi, etiologi, anatomi fisiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostik, pencegahan, komplikasi.
 BAB III  : TINJAUAN KASUS
Tinjauan Kasus yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
BAB IV   : PENUTUP
Penutup berisi tentang kesimpulan yang terdiri dari kesimpulan pelaksanaan dari setiap proses keperawatan.






BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Definisi
Demam tifoid (Typhus abdominalis, Typhoid fever, enteric fever) merupakan penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran pencernaan dengan gejala demam selama satu minggu atau lebih dengan disertai gangguan pada saluran pencernaan dan dengan atau tanpa gangguan kesadaran (Ngastiyah, 2005).
Thypoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang di sebabkan oleh kuman Salmonella Thypi dan Salmonella para Thypi A,B,C. Sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphois abdominalis (Sudoyo, A.W., & B.Setiyohadi, 2006).
Thypoid  adalah  suatu  penyakit  pada usus yang  menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh Salmonella Type A,B,C. Penularan terjadi secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Mansjoer, A, 2009).
Thypoid  adalah  penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri salmonella thyposa. Thypoid adalah infeksi akut pada usus halus yang menimbulkan gejala-gejala. Bakteri ini disebabkan oleh lalat melalui makanan dan minuman yang masuk dalam perut. Penularannya terjadi secara fecal oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi sumber utama Carrier, masa tunas penyakit ini 1-3 minggu, orang yang pernah kena penyakit Thypus disebut “Corner Thypus”.
Typhoid  abdominalis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Salmonella typhi atau Salmonella Paratyphii A, B dan C. Berdasarkan definisi di atas penulis menyimpulkan  bahwa  typhoid   fever  adalah  penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh kuman Salmonella typosa dengan gejala demam lebih dari satu minggu, gangguan pada saluran pencernaan bahkan gangguan kesadaran (Soedarto,1992)
2.2    Etiologi
Penyebab penyakit typhoid fever  secara umum  adalah  kuman  Salmonellatyphi  yang merupakan  kuman  gram negatif dan  tidak menghasilkan spora. Kuman Salmonella typhii ini dapat hidup baik pada suhu  manusia (36 – 37oC) maupun pada suhu yang lebih rendah dari 36 oC, serta mati pada suhu 70 oC maupun oleh anti septik. Saat ini diketahui bahwa kuman ini hanya menyerang manusia. Salmonella typhii mempunyai tiga macam antigen yaitu:
1)        Antigen O = Ohne Hauch: somatic antigen (tidak menyebar)
2)        Antigen H = Hauch (menyebar) terdapat  pada flagella dan bersifat termolabil.
3)        Antigen V1 = kapsul; merupakan kapsul yang meliputi tubuh  kuman dan melindungi O antigen terhadap fagositosis.

2.3  Anatomi Fisiologi
Saluran  pencernaan  makanan  merupakan  saluran yang  menerima makanan dari luar dan mempersiapkan  untuk diserap oleh tubuh  dengan  jalan  proses  pencernaan (pengunyahan, penelanan, dan pencampuran.) dengan enzim dan zat cair yang terbentang mulai dari mulut (oris) sampai anus.
Susunan saluran pencernaan terdiri dari :
a.       Oris (mulut)
b.      Faring (tekak)
c.       Esofagus (kerongkongan )
d.      Ventriculus (lambung)
e.       Intestinum minor (usus halus)
- Duodenum (usus 12 jari)
- Jejenum
- Ileum
f.       Intestinum mayor (usus besar)
- Sekum
- Kolon asendens
- Kolon transversum
- Kolon desendens
-Kolon sigmoid
g.      Rektum
h.      Anus.
Struktur pencernaan :
a.       Oris (mulut)
Mulut adalah  permulaan  saluran pencernaan yan terdiri atas dua bagian yaitu: bagian  luar yang sempit atau vestibula yaitu  rongga di antara gusi, gigi, bibir dan pipi.Rongga mulut bagian dalam yaitu: rongga mulut yang dibatasi sisinya oleh tulang maxilaris, palatum dan  mandibularis,di sebelah belakang bersambung dengan faring.
b.      Faring (tekak)
Merupakan organ yan menghubungkan  rongga mulut dengan kerongkongan (esophagus). Terdiri atas bagian  superior disebut nasofaring dan bagian inferior disebut orofaring.Fungsinya: jalan udara dan jalan  makanaan   pada faring terjadi penyilangan
c.       Esofagus (kerongkongan)
     Merupakan  saluran  yang menghubungkan tekak dengan lambung, panjangnya ± 25 cm, mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak lambung.Lapisan dinding dari dalam keluar : selaput lendir,(mukosa ), lapisan submukosa, lapisan otot melingkar sirkuler dan lapisan otot memanjang longitudinal.Fungsinya : menggerakan   makanan pada faring ke lambung melalui gerak peristaltic.
d.      Ventrikulus (Lambung)
     Lambung terdiri dari tiga bagian yaitu : fundus, corpus, dan pylorus. Makanan hancur selama 3atau 4 jam dalam lambung kemudiaan dikeluarkan dalam bentuk cair .
     Fungsinya :
1.      Menampung  makanan,  menghancurkan dan menghaluskan makanan oleh peristaltic lambung dan getah lambung.
2.      Getah cerna lambung yang dihasilkan :
·         Pepsin fungsinya : memecah  putih telur menjadi  asam amino (albumin dan omino).
·         Asam garam (HCl),fungsinya : sebagai mana ragi yang  membekukan susu dan  membentuk kasein dari kasinogen  (kasinogen dan protein susu).
·         Renin fungsinya : sebagaimana ragi yang membeekukan susu dan membentuk kasein dari kasinogen (kasinogen dan protein).
e.       Intestinum Minor (Usus Halus)
Usus halus adalah bagian saluran cerna diantara lambung dan usus besar. Panjangnya ± 3,720 cm, bergelung dalam rongga perut dan tebagi atas 3 bagian yaitu :
a.       Duodenum (usus 12 jari ) dengan panjang ± 2,5 cm, dinding duodenum mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar yang disebut kelenjar brunner berfungsi untuk memproduksi getah intestinum.
b.      Yeyenum (usus kosong) dan ileum (usus penyerapan ). Panjangnya ± 2-3 meter dan ileum   ± 4-5 meter. Ileum  melekat pada dinding abdomen posterior dengan perantaraan  lipatan  peritoneum yang berbentuk kipas yang disebut mesenterrium. Fungsinya : mencegah cairan dalam kolon asandens tidak masuk kembali ke ileum tapi masuk ke usus besar
c.       Usus halus :
Fungsi usus halus :
·         Mengangkat kimus dari lambung ke usus besar
·         Menyelesaikan pencernaan dengan enzim yang berasal dari dinding dan kelenjar lain.
·         Menyerap hasil akhir pencernaan ke dalam darah dam limfe.
·         Menggetahkan hormone tertentu

f.       Intestinum Mayor (Usus Besar)
Usus besar  memanjang dari katub ileokal ke anus yang panjangnya ±180 cm, dan terdiri atas :
a)        Sekum
Di bawah  sekum  terdapat apendiks vermiformis yang bebentuk seperti cacing sehingga di sebujt juga umbai cacing, panjangnya 6 cm. Seluruhnya di tutupi oleh peritoneum mudah bergerak walaupun tidak mempunyai mesenterium dapat di raba melalui dinding abdomen pada organ yang masih hidup.
b)        Kolon asendens
Panjangnya, 13 cm, terletak di bawah abdomen sebelah kanan, membujur ke atas dari ileum ke bawah hati.Di bawah hati melengkung ke kiri, lengkungan  ini di sebut fleksura hepatica, di kolon  lanjutkan sebagai transversum.
c)        Kolon transversum
Panjangnya ± 38 cm, membujur dari kolon asendens sampai ke kolon desendens berada di bawah abdomen, sebelah kanan terdapat fleksura hepatica dan sebelah kiri terdapat fleksura lienalis.
d)       Kolon desendens
Panjangnya ± 25 cm, terletak di bawah abdomen  baian kiri membujur dari atas ke bawah dan fleksura lienalis sampai ke depan ileum kiri, bersambung dengan kolon sogmoid.
e)        Kolon sigmoid
Kolon sigmoid merupakan  lanjutan dari kolon desendens,        teletak miring dalam  rongga pelvis sebelah kiri, bentuknya    menyerupai  huruf s ujung bawahnya berhubungan dengan rectum.
g.      Rektum
     Rektum  terletak di bawah kolon sigmoid, yang menghubungkan intestinum mayor dengan anus, terletak dalam rongga pelvis di depan os sekrum dan ps koksigis.
h.      Anus
     Anus adalah bagian dari saluran pencernan yang menghubungkan rectum dengan dunia luar(udara luar) Terletak di dasar pelis,dindingnya di perkuat oleh 3 sfingter :  
1)    Sfingter ani internus(sebelah atas) bekerja tidak menurut  kehendak
2)    Sfingter levator ani, bekerja juga tidak menurut kehendak
3)    Ani eksternus (sebelah bawah), bekerja menurut kehendak

2.4  Patofisiologi
Kuman  Salmonella  masuk bersama makanan  atau  minuman yang terkontaminasi, setelah berada dalam usus halus mengadakan invasi ke jaringan limfoid usus halus (terutama plak peyer) dan jaringan limfoid mesenterika.Setelah menyebabkan peradangan dan nekrosis setempat kuman lewat pembuluh limfe masuk ke darah (bakteremia primer) menuju organ retikuloendotelial sistem (RES) terutama hati dan limpa. Di tempat  ini kuman difagosit oleh sel-sel fagosit retikulo endotelial sistem (RES) dan kuman yang tidak difagosit berkembang biak.
Pada akhir  masa  inkubasi 5-9 hari kuman kembali masuk ke darah menyebar ke seluruh tubuh (bakteremia sekunder) dan sebagian kuman masuk ke organ tubuh terutama limpa, kandung empedu yang selanjutnya kuman  tersebut dikeluarkan kembali dari kandung empedu ke rongga usus dan menyebabkan reinfeksi usus.Dalam masa bakteremia ini kuman  mengeluarkan  endotoksin.Endotoksin ini  merangsang sintesa dan pelepasan zat  pirogen oleh  lekosit pada jaringan yang meradang.Selanjutnya zat pirogen yang beredar di darah  mempengaruhi pusat termoregulator di hipothalamus yang mengakibatkan timbulnya gejala demam.
Makrofag pada pasien akan menghasilkan substansi aktif yang disebut monokines yang menyebabkan nekrosis seluler dan merangsang imun sistem, instabilitas vaskuler, depresi sumsum tulang dan panas. Infiltrasi jaringan oleh makrofag yang mengandung eritrosit, kuman, limfosist sudah berdegenerasi yang dikenal sebagai tifoid sel. Bila sel ini beragregasi maka terbentuk nodul terutama dalam  usus halus, jaringan limfe mesemterium, limpa, hati, sumsum tulang dan o3Rrgan yang terinfeksi.
Kelainan utama yang terjadi di ileum terminale dan plak peyer yang hiperplasi (minggu I), nekrosis (minggu II) dan ulserasi (minggu III).Pada dinding ileum terjadi ulkus  yang  dapat  menyebabkan  perdarahan  atau perforasi intestinal.Bila sembuh tanpa adanya pembentukan jaringan parut.


Pathways Typhoid
                                                                                                                                                       
Kuman salmonella thypi dan salmonella parathypi masuk ke saluran pencernaan
 


Sebagian masuk ke usus halus
Sebagian masuk ke lambung
Sebagian hidup dan menetap
Terjadi infeksi
Menyebar ke seluruh tubuh
Kuman masuk ke dalam peredaran darah
Respon peradangan oleh endotoksin
demam
Masuk ke saluran limfe dan bersarang di hati
Membentuk jaringan nekrosis
perdarahan
Perporasi peritonitis
Merangsang pusat mual dan muntah di medulla oblongata
Mengeskresi asam lambung berlebih
Intake kurang
anoreksia
Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
Kelemahan otot
bedrest
Intolerasi aktivitas
masuk  kedalam kelenjar limfa dan hidup di hati
Spignomegali/hepatomegali
nyeri
Stresor psikologis
cemas
gang.termogulasi
Meningkatkan permeabilitas kapiler
Kehilangan  cairan berlebih
HYPERTERMI
resiko devisit volume cairan
Absobrsi usus berlebihan
konstipasi
Gangguan eliminasi BAB
Kurang pengetahuan tentang penyakit
Devisit perawatan diri
ASUPAN NUTRISI TIDAK ADEKUAT
Meningkatkan penyerapat air berlebihan
                                                            
















2.5  Manifestasi Klinis
a)      Demam
Gejala timbul selama  masa inkubasi sekitar dua minggu. Pada minggu pertama  suhu  berangsur naik dan febris bersifat remitten atau panas hanya pada waktu sore dan malam hari. Gejala panas tidak akan turun dengan antipiretik, tidak menggigil, berkeringat, kadang-kadang disertai dengan epistaksis.
b)      Tanda dan Gejala pada sistem Gastro Intestinal
a.       Bibir kering dan pecah-pecah, lidah kotor dan berselaput putih, hyperemi.
b.      Perut kembung, nyeri tekan
c.       Limfa membesar, lunak dan nyeri pada saat penekan
d.      Pertama kali pasien mengalami diare, kemudian obstipasi
e.       Tanda-tanda dehidrasi
f.       Tanda-tanda perdarahan dan tanda-tanda shock
g.      Klien belum BAB selama 2 hari
c)      Leukopeni
d)     Tingkat kesadaran
Dapat terjadi penurunan kesadaran dari ringan sampai berat, pada umumnya apatis sampai samnolen bahkan dapat terjadi koma. Penurunan kesadaran ini disebabkan karena panas tubuh yang tinggi.
e)      Bradikardi
f)       Peningkatan suhu tidak disertai dengan peningkatan nadi dimana seharusnya setiap kenaikan suhu 1oC diikuti dengan kenaikan nadi 10 – 15 x/menit, sedangkan pada penderita ini kenaikan nadi lebih rendah dari kenaikan suhu.
2.6   Pemeriksaan Diagnostik
a.       Darah tepi
Terdapat gambaran leukopenia, limfositosis relatif pada permulaan sakit. Mungkin terdapat anemia dan trombositopenia ringan. Pemeriksaan darah tepi ini sederhana dan  mudah  dikerjakan  di laboratorium  yang  sederhana, tetapi hasilnya berguna untuk membantu untuk menentukan penyakitnya dengan cepat (adakalanya dilakukan pemeriksaan  sumsum tulang tetapi sangat jarang sekali) bila hal itu dilakukan daerah yang akan dipungsi, dapat pada tibia, perlu dilakukan pembersihan ekstra kemudian dikompres dengan alkohol 70%.



b.      Darah untuk kultur (biakan empedu) dan widal.
Biakan empedu untuk menemukan Salmonella thypii dan pemeriksaan widal merupakan pemeriksaan yang dapat menentukan diagnosis typhoid fever secara pasti.
Pemeriksaan ini perlu dikerjakan pada waktu masuk dan setiap minggu berikutnya. (diperlukan darah sebanyak 5 cc untuk kultur atau widal).
a)      Biakan Empedu
Biakan empedu basil Salmonella thypii dapat ditemukan dalam darah pasien pada minggu pertama sakit. Selanjutnya lebih sering ditemukan dalam urin dan feses, dan mungkin akan tetap positif untuk waktu yang lama. Oleh karena itu, pemeriksaan yang positif dari contoh darah digunakan  untuk menegakkan diagnosis, sedangkan untuk pemeriksaan negatif dari contoh urin dan feses dua kali berturut-turut digunakan untuk menentukan  apakah pasien telah benar sembuh dan tidak menjadi pembawa kuman (karier).
b)      Pemeriksaan Widal
Dasar pemeriksaan ialah reaksi aglutinasi yang terjadi bila serum pasien thypoid dicampur dengan suspensi antigen Salmonella typhii. Pemeriksaan  yang  positif  ialah  bila  terjadi reaksi aglutinasi. Dengan jalan  mengencerkan  serum, maka kadar zat anti dapat ditentukan, yaitu pengenceran  tertinggi yang masih menimbulkan reaksi aglutinasi. Untuk membuat diagnosis yang diperlukan  ialah  titer  zat anti terhadap antigen O. Titer yang bernilai 1/200 atau lebih dan atau menunjukkan kenaikan yang progresif digunakan untuk membuat diagnosis. Titer tersebut mencapai puncaknya bersamaan dengan penyembuhan pasien. Titer terhadap antigen H tidak diperlukan untuk diagnosis karena  dapat tetap tinggi setelah mendapat imunisasi atau bila pasien telah lama sembuh. Pemeriksaan  widal  tidak  selalu  positif  walaupun pasien sungguh-sungguh menderita typhoid fever (disebut negatif semu).



2.7    Pencegahan
Usaha pencegahan typhoid fever dibagi dalam :
1.      Usaha terhadap lingkungan hidup
a.       Penyediaan air minum atau bersih
b.      Pembuangan kotoran manusia yang higienis pada tempatnya
c.       Pemberantasan lalat dan senantiasa menutup makanan
d.      Pengawasan terhadap rumah makan dan penjual makanan

2.      Usaha terhadap manusia
a.       Pendidikan kesehatan terhadap masyarakat
b.      Menemukan dan atau mengawasi carier typhoid
c.       Imunisasi
2.8  Komplikasi
Komplikasi demam typhoid dibagi dalam:
a.       Komplikasi Intestinal
1)      Perdarahan  usus : perdarahan sedikit ditemukan jika dilakukan pemeriksaan  tinja dengan  bensidin. Bila perdarahan  banyak terjadi melena dan bila berat dapat disertai perasaan nyeri perut dengan tanda-tanda rejatan.
2)      Perforasi usus, timbul biasanya pada minggu kedua atau setelah itu dan terjadi pada bagian distal ileum. Perforasi yang tidak disertai peritonitis hanya dapat ditemukan bila terdapat udara di rongga peritonium yaitu pekak  hati menghilang dan  terdapat udara diantara hati dan diafragma pada foto rontgen abdomen yang dibuat dalam keadaan tegak.
3)      Peritonitis, biasanya menyertai perforasi tapi dapat terjadi tanpa perforasi usus. Ditemukan gejala abdomen akut yaitu nyeri perut yang hebat, dinding abdomen tegang (defence musculair) dan nyeri pada tekanan.
4)      Ileus paralitik.
b.      Komplikasi ekstra intestinal
1)      Komplikasi kardiovaskuler: kegagalan sirkulasi perifer (rejatan, sepsis), miokarditis, trombosis dan tromboflebitis.
2)      Komplikasi darah: anemia hemolitik, trombositopenia dan atau koagulasi intravaskular diseminata, dan sindrom uremia hemolitik.
3)      Komplikasi paru:  pneumonia, empiema, dan pleuritis.
4)      Komplikasi hepar dan kandung kemih; hepatitis dan kolelitiasis.
5)      Komplikasi ginjal: glomerulonefritis, pielonefritis, dan perinefritis.
6)      Komplikasi tulang: osteomielitis, periostitis, spondilitis, dan artritis.
7)      Komplikasi neuropsikiatrik: delirium, miningismus, meningitis, polineuritis perifer, sindrom Guillain-Barre, psikosis, dan sindrom katatonia.

 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
2.9    Konsep Asuhan Keperawatan
2.9.1  Pengkajian
a. Pengumpulan data
1.    Identitas klien
Meliputi nama,, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, suku/bangsa, agama, status perkawinan, tanggal masuk rumah sakit, nomor register dan diagnosa medik.
2.    Keluhan utama
Keluhan  utama demam  tifoid  adalah  panas atau demam  yang  tidak turun-turun, nyeri perut, pusing kepala, mual, muntah, anoreksia, diare serta penurunan kesadaran.
3.    Riwayat penyakit sekarang
Peningkatan  suhu tubuh  karena  masuknya kuman salmonella typhi  ke dalam tubuh
4.    Riwayat penyakit dahulu
Apakah sebelumnya pernah sakit demam thypoid.
5.    Riwayat penyakit keluarga
Apakah keluarga pernah menderita hipertensi, diabetes melitus.
6.    Pola-pola fungsi kesehatan
a)  Pola nutrisi dan metabolisme
Klien akan mengalami penurunan  nafsu  makan  karena  mual dan muntah  saat makan  sehingga makan hanya sedikit bahkan tidak makan  sama sekali.
b) Pola eliminasi
Eliminasi alvi.  Klien dapat mengalami konstipasi oleh karena tirah baring lama.  Sedangkan eliminasi urine tidak mengalami gangguan, hanya warna urine menjadi kuning kecoklatan.   Klien dengan demam  tifoid terjadi peningkatan suhu tubuh yang berakibat keringat banyak keluar dan merasa haus, sehingga dapat meningkatkan kebutuhan cairan tubuh. 
c) Pola aktivitas dan latihan
Aktivitas klien akan terganggu karena harus tirah baring total, agar tidak terjadi komplikasi maka segala kebutuhan klien dibantu.
d) Pola tidur dan istirahat
Pola tidur dan istirahat terganggu sehubungan peningkatan suhu tubuh.
e) Pola persepsi dan konsep diri
Biasanya terjadi kecemasan pada orang tua terhadap keadaan penyakitanaknya.
f) Pola sensori dan kognitif
Pada penciuman, perabaan, perasaan, pendengaran dan penglihatan umumnya tidak mengalami kelainan serta tidak terdapat suatu waham pada klien. 
g) Pola hubungan dan peran
Hubungan dengan orang lain terganggu sehubungan klien di rawat di rumah sakit dan klien harus bed rest total.
h) Pola penanggulangan stress
Biasanya orang tua akan nampak cemas
7)  Pemeriksaan fisik
a) Keadaan umum
Didapatkan  klien   tampak   lemah,   suhu   tubuh   meningkat     38 – 410 C, muka kemerahan.
b) Tingkat kesadaran
Dapat terjadi penurunan kesadaran (apatis).
c) Sistem respirasi
Pernafasan rata-rata ada peningkatan, nafas cepat dan dalam dengan gambaran seperti bronchitis.
d) Sistem kardiovaskuler
Terjadi penurunan tekanan darah, bradikardi relatif, hemoglobin rendah.
e) Sistem integumen
Kulit kering, turgor kullit menurun, muka tampak pucat, rambut agak kusam
f) Sistem gastrointestinal
Bibir kering pecah-pecah, mukosa mulut kering, lidah kotor (khas), mual, muntah, anoreksia, dan konstipasi, nyeri perut, perut terasa tidak enak, peristaltik usus meningkat.
g) Sistem muskuloskeletal
Klien lemah, terasa lelah tapi tidak didapatkan adanya kelainan.
h) Sistem abdomen
Saat palpasi didapatkan limpa dan hati membesar dengan konsistensi lunak serta nyeri tekan pada abdomen.  Pada perkusi didapatkan perut kembung serta pada auskultasi peristaltik usus meningkat.
2.9.2Diagnosa Keperawatan
a.Peningkatan suhu tubuh (hypertermia) b/d proses infeksi salmonella typhi.
b. Resiko tinggi kekurang cairan b/d pemasukan cairan kurang, kehilangan cairan berlebihan melalui muntah dan diare.
c. Resiko tinggi gangguan pemenuhan kebutuhan  nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake yang tidak adekuat, mual muntah, anoreksia.
d.Intoleransi aktivitas b/d kelemahan, immobilisasi.

2.9.3   Intervensi.
Dx 1 Peningkatan suhu tubuh (hypertermia) b/d proses infeksi salmonella typhi.
Intervensi
Rasional
1)      Observasi  suhu, N, TD, RR tiap 2-3 jam



2)      Catat  intake  dan output cairan dlm 24 jam



3)      Kaji sejauh mana pengetahuan keluarga dan pasien tentang hyperthermia

4)      Anjurkan  klien/klg untuk melaporkan  bila tubuh terasa panas dan keluhan lain.



5)      Jelaskan upaya – upaya untuk mengatasi hypertermia dan  bantu klien/keluarga dlm  upaya tersebut:
-          Tirah baring dan kurangi aktifitas
-          Banyak minum
-          Beri kompres hangat
-          Pakaian tipis dan menyerap keringat
-          Ganti pakaian, seprei bila basah
-          Lingkungan tenang, sirkulasi cukup.
6)      Kolaborasi dalam pemberian antipiretik, cairan dan pemeriksaan kultur darah.
1)  Sebagai  pengawasan  terhadap adanya perubahan  keadaan  umum pasien sehingga dapat diakukan penanganan dan perawatan secara cepat dan tepat.

2)  Mengetahui keseimbangan cairan dalam tubuh pasien untuk membuat perencanaan kebutuhan cairan yang masuk.

3)  Mengetahu i kebutuhan infomasi dari pasien dan  keluarga mengenai perawatan pasien dengan hypertemia.

4)      Penanganan perawatan dan pengobatan yang tepat diperlukan  untuk  megurangi keluhan dan gejala penyakit pasien sehingga kebutuhan pasien akan kenyamanan  terpenuhi.

5)  Upaya – upaya  tersebut dapat membantu menurunkan  suhu  tubuh  pasien  serta meningkatkan  kenyamanan  pasien.










6)  Antipiretik dan pemberian cairan menurunkan suhu  tubuh  pasien serta pemeirksaan  kultur darah membantu penegakan diagnosis typhoid.

Dx 2 Resiko tinggi kekurang cairan b/d pemasukan cairan kurang, kehilangan berlebihan melalui muntah dan diare.
Intervensi
Rasional
1)       Observasi  masukan dan keluaran, bandingkan dengan BB harian. Catat kehilangan  melalui usus, contoh  muntah dan diare.
2)       Kaji tanda vital, nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membrane  mukosa.

3)       Berikan pasien  minum air putih sedikit tapi sering.


4)       Jelaskan  pada pasien tentang pentingnya cairan dalam  tubuh.

5)       Kolaborasi dalam mengawasi nilai  laboratorium: HB, HT, Na albumin.
6)       Kolaborasi dalam  memberikan cairan IV seperti glukosa dan Ringer laktat.
1)  Memberikan  informasi tentang kebutuhan cairan/elektrolit  yang hilang.



2)  Indikator  volume sirkulasi/perfusi.



3)  Untuk mencegah dehidrasi pada pasien.



4)  Agar  pasien mengerti tentang pentingnya cairan dalam tubuh.

5)  Menunjukkan  hidrasi dan mengidentifikasi retensi natrium/kadar protein akibat muntah dan diare berlebihan.
6)  Memberikan cairan dan penggantian elektrolit.

Dx 3 Resiko tinggi gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake yang tidak adekuat, mual muntah, anoreksia.
Intervensi
Rasional
1)      Observasi pemasukan diet/jumlah kalori.


2)      Berikan porsi kecil tapi sering dan  tawarkan  makan  pagi dengan porsi paling besar.

3)      Berikan  perawatan  mulut sebelum  makan.

4)      Dorong pemasukan sari jeruk, minuman  karbonat dan  permen sepanjang hari.

5)      Anjurkan  makan dalam  posisi duduk tegak.
6)      Konsul ahli diet, dukungan tim nutrisi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan klien.
7)      Kolaborasi dalam  pengawasan glukosa darah.

8)      Kolaborasi dalam pemberikan obat  sesuai  indikasi: antasida, antiemetik, vitamin B kompleks.
1)  Makan banyak sulit untuk mengatur bila pasien anoreksi, anoreksi juga paling buruk selama siang hari, membuat masukan  makanan yang sulit pada sore hari.
2)  Membantu untuk menormalkan fungsi pencernaan akibat adanya peningkatan asam lambung oleh karena mual muntah

3)  Menghilangkan  rasa tak enak dapat meningkatkan  nafsu  makan.

4)  Bahan ini merupakan ekstra kalori dan dapat lebih mudah dicerna/ditoleran bila makanan lain tidak.

5)  Menurunkan  rasa  penuh pada  abdomen dan dapat  meningkatkan  pemasukan.
6)  Berguna dalam  membuat  program diet untuk memenuhi kebutuhan klien.

7)  Hiper glikemia/hipo glikemia dapat terjadi pada  klien dengan  anoreksi.

8)  Antiemetik diberikan ½ jam  sebelu m makan dapat  menurunkan  mual dan  meningkatkan toleransi  pada  makanan. Antasida bekerja pada asam  gaster dapat menurunkan iritasi/resiko perdarahan. Vitamin B kompleks memperbaiki  kekurangan dan membantu proses penyembuhan.

Dx 4 Intoleransi aktivitas b/d kelemahan, immobilisasi.
Intervensi
Rasional
1)        Observasi TTV.

2)        Tingkatkan tirah baring/duduk. Berikan lingkungan tenang, batasi pengunjung sesuai keperluan.



3)        Ubah posisi dengan  sering dan berikan  perawatan   kulit yang baik.


4)        Tingkatkan aktifitas sesuai toleransi, bantu melakukan latihan rentang gerak sendi pasif/aktif.


5)        Anjurkan penggunaan  teknik manajemen stres, contoh  relaksasi progresif, visualisasi, bimbingan imajinasi. Berikan aktifitas hiburan yang tepat contoh: menonton TV, radio, membaca.
1)       Mengetahui keadaan umum pasien.

2)       Meningkatkan istirahat dan ketenangan. Menyediakan energi yang digunakan untuk penyembuhan. Aktifitas dan posisi duduk tegak diyakini meurunkan aliran darah ke kaki, yang  mencegah  sirkulasi optimal ke organ pencernaan.

3)       Meningkatkan fungsi pernafasan dan meminimalkan  tekanan  pada area tertentu untuk menurunkan  resiko kerusakan jaringan.

4)       Tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan. Ini dapat terjadi karena keterbatasan aktifitas yang mengganggu periode istirahat.


5)       Meningkatkan  relaksasi dan penghematan energi, memusatkan  kembali  perhatian dan dapat  meningkatkan  koping.




2.9.4   Implementasi
Sesuai dengan intervensi
2.9.5   Evaluasi
Dx 1
1.    Badan terasa nyaman (+), pusing  (-), istirahat bisa.
2.    Suhu normal, nadi normal, tekanan darah normal, respirasi normal.
3.    Pucat (-).
Dx 2
1.    Dehidrasi (-).
2.    Turgor kulit elastis.
3.    Membran mukosa lembab.
Dx 3
1.    Mual (-), muntah (-).
2.    Nafsu makan (+).
3.    Berat badan stabil.
Dx 4
1.    Kelemahan (-), Immobilisasi normal.
2.    Aktivitas (+).










BAB III

TINJAUAN KASUS

3.1 Laporan Kasus
3.1. Pengkajian Sederhana
1)      Pengumpulan Data
a.       Identitas Klien
Nama                                       :Tn.S               
Jenis kelamin                           :Laki laki
Umur                                       :25 Tahun
Alamat                                                :Mutiara Baru,RT 02 RW 11,kec Bojong Gede
Pekerjaan                                 :Karyawan swasta
Status perkawinan                   :Belum kawin
Agama                                     :Islam
Tanggal masuk RS                  :02Aapril 2014
Tanggal Pengkajian                 :03 April 2014
Diagnosa Medis                      :Demam Thipoid  
No. RM                                   :10868105

b.      Identitas Penanggung Jawab
Nama                                               :Tn.A
Jenis kelamin                                    :Laki-laki
Umur                                                :61 Tahun
Pekerjaan                                         :Pedagang
Alamat                                             :Mutiara Baru,RT 02 RW 11,kec Bojong Gede
Hubungan dengan klien                   :Ayah
2) Keluhan Utama
Klien mengatakan demam
3) Riwayat Kesehatan
a.       Riwayat Kesehatan Sekarang
Sebelum klien di rawat di rumah sakit klien mengatakan mengalami demam, belum BAB  selama 2 hari,tidak nafsu  makan, selama 4 hari dan sudah di tangani dengan  obat  warung  dan  keadaan  klien  Tidak ada perubahan. Pada tanggal 02 april 2014 keluarga klien membawa klien ke rumah sakit RSUD Cibinong dengan keluhan yang samadengan di rumah, setelah di observasi dokter menyarankan  agar klien di rawat di rumah sakit ini di ruang flamboyan bagian penyakit dalam.

b.      Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Saat di lakukan pengkajian klien mengatakan tidak mengalami penyakit seperti ini sebelumnya, biasanya hanya demam biasa dan sembuh setelah di beri obat warung dank lien juga mengatakan belum pernah di rawat di rumah sakit sebelumnya

c.       Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien  mengatakan bahwa ibunya pernah mempunyai penyakit thypoid dan sempat di rawat di rumah sakit sentra medika selama 3 hari pada tahun 2012. Kakek klien meninggal di akibatkan karena kecelakan dan cidera di bagian kepala
GENOGRAM :
          
 









KETERANGAN :



                             :  Perempuan                                     

 

 : meninggal
   : Klien



                             : Laki laki                                            : Tinggal serumah

d.      Riwayat Psikososial
      Klien  mengatakan  khawatir dan cemas terhadap penyakitnya, klien dapat bersosialisasi dengan baik dengan keluarga dank lien yang lain. Klien juga dapat merespon terhadap tim medis yaitu perawat dan dokter.
e.       Riwayat Spiritual
      Klien beragama  islam, sebelum  masuk RS  klien  taat  beribadah  sholat  rajin 5 waktu full, di rumah sakit klien jarang sholat. Klien selalu berdoa agar cepat sembuh.
f.       Pola Kebiasaan Sehari-hari
No
Pola kebiasaan
Di rumah
Di rumah sakit
1
Pola nutrisi
-          Makan
-          Jenis makan


-          frekuensi


-          nasi lauk pauk dan sayur mayur
-          3x sehari 1 porsi penuh


-          Nasi tim


-          3x sehari, hanya habis 6 sendok atau ½ porsi.

-          Minum
-          Jenis minum

-          Frekuensi

-          Air putih, teh  dan kopi
-          Kurang lebih 1 liter

-          Air putih

-          Kurang lebih 3 gelas aqua 1 gelas aqua 220 ml
2
Pola eliminasi
-          BAB
-          Konsistensi
-          Warna

-          frekuensi


-          lembek
-          kuning dengan bau khas
-          1x setiap hari


-          Tidak bias bab
-          Tidak bias bab

-          Selama di rumah sakit belum pernah bab

-          BAK
-          Warna
-          Frekuensi
-          Volume

-          Kuning jernih
-          6x sehari
-          Kurang lebih 850cc

-          Kuning jernih
-          3x sehari
-          Kurang lebih 425
3
Pola aktivitas
-          Bekerja
-          selama di rumah sakit klien hanya beristirahat dan berbaring di tempat tidur
4
Pola istirahat tidur
-          Malam


-          Siang

-          Klien tidur dari jam 21.00 s/d 05.00
-          Klien tidak pernah tidur siangj

-          Klien tidur dari jam 23.00 s/d 05.00
-          Klien tidur siang 2 sampai 3 jam per hari
5
Pola personal hygiene
v  Mandi
v  Keramas
v  Gunting kuku

-          2x sehari
-          2x 1 minggu
-          1x 1 minggu

-          1x  sehari
-          Belum
-          Belum
g.      Pemeriksaan fisik
a.       Keadaan umum : sedang
b.      Kesadaran         : composmetis (CM)
pada saat di kaji GCS klien
·         Respon Motorik          : 6 (mengikuti perintah)
·         Respon Bicara             : 5 (orientasi baik)
·         Respon Mata               : 4 (spontan membuka mata)
                                                +
Jumlah score                : 15 (normal)
c.       tanda tanda vital
·         Tekanan Darah            : 130/90 mmHg
·         Nadi                            :110 x/menit
·         Respirasi                      : 22 x/menit
·         Suhu                            : 38,oC
d.      Pemeriksaan antropometri
·         BB sblm masuk RS     : 67 Kg
·         BB saat pengkajian     : 64 kg
·         TB                               : 165 Cm
·         BB Ideal                     : ( TB – 100 ) x 90 %
 = ( 165 – 100 ) x 90 %
 = 65 x
 = 58,5 Kg
e.       Pemeriksaan Head to toe
1.      Kepala
Ø  Inspeksi     : bentuk kepala simetris, warna rambut hitam tampak bersih tidak Nampak luka atau benjolan
Ø  Palpasi       :tidak teraba nyeri tekan, atau benjolan
2.      Wajah
Ø  Inspeksi     : wajah tampak  pucat.wajah  tampa kkemerahan bentuk wajah oval, warna kulit  sawo  matang tidak terdapat luka parut kulit bersih tidak berminyak dan berjerawad
Ø  Palpasi       : tidak terdapat nyeri tekan atau benjolan
3.      Mata
Ø  Inspeksi     : bentuk mata simetris, konjungtiva anemis, sclera berwarna putih dan mata tampak cembung
Ø  Palpasi       : tidak  teraba  nyeri tekan atau benjolan, dan tekanan kedua mata sama
Ø  Fungsi       : mata  masih berfungsi dengan baik dapat melihat dan dapat membaca dalam jarak jauh mau jarak dekat
4.      Hidung
Ø  Inspeksi     : bentuk hidung simetris, tampak bersih tidak terdapat scretdan tidak terdapat benjolan atau luka
Ø  Palpasi            : tidak teraba nyari tekan atau benjolan
Ø  Fungsi                        : indera penciuman masih berfungsi dengan baik tanpa ada gangguan. Klien dapat membedakan antara bau wangi-wangian dan bau minyak angin.
5.      Telinga
Ø  Inspeksi         : bentuk telingan simetris tampak bersih tidak terlihat serumendi sekitar telingan
Ø  Palpasi           : tidak teraba nyeri tekan atau benjolan
Ø  Fungsi           : telinga masih berfungsi dengan baik bias mendengan secara normal tanpa bantuan alat.
6.      Mulut
Ø  Inspeksi           : mulut tampak bersih, gigi lengkap dengan warna kekuning kuningan, lidah  tampak bersih dengan  warna  merah  muda.
Ø  Fungsi             : pengecapan baik,klien bisa merasakan  macam macam rasa, dan tidak ada gangguan.
7.      Leher
Ø  Inspeksi            : leher  tampak bersih turgor  kulit sedang tidak terlihan pembengkakan di area leher.
Ø  Palpasi              : tidak teraba nyeri tekan  atau  benjolan.Dan tidak ada pembengkakan di area sekitar leher.

8.      Thorax / punggung
Ø  Inspeksi           : bentuk thorax simetris, pada saat bernafas pengembangan paru paru kanan dan kiri sama, respirasi normal 22x/menit
Ø  Palpasi             : tekanan vocal fremitussama, tidak terdapat nyeri tekan pada bagian dada.
Ø  Perkusi            : terdapat  bunyi hiper sonor
Ø  Auskultasi       : suara nafas klien bronchovesikuler (inspirasi sama dengan ekspirasi) tidak terdapat suara tambahan
9.      Abdomen
Ø  Inspeksi            :perut klien terlihat buncit, umbilicus tidak menonjol dan berada di tengah, terlihat adanya massa di perut bagian bawah dan disentri abdomen (kembung)
Ø  Auskultasi        : terdengar bising usus klien dengan frekuensi 9x/ menit
Ø  Palpasi              : teraba massa feces dibagian perut bawah kuadran kiri.
Ø  Perkusi             : saat di ketuk terdengar bunyi suara tympani
10.  Ekstermitas atas
Ø  Inspeksi            : kedua tangan dapat di gerakkan tetapi tanagn kiri terganggu pergerakannya karena terpasang infus RL,tampak berkeringat
Ø  Palpasi              : tidak terdapat nyeri tekan , benjolan
11.  Ekstermitas bawah
Ø  Inspeksi           : kedua kaki dapat di gerakkan dengan normal tanpa bantuan alat apapun
Ø  Palpasi             : tidak terdapat nyeri tekan, benjolan
Ø  Fungsi             : ekstermitas bawah masih berfungsi dengan baik, tidak ada gangguan bias berjalan , jongkok, hingga lari.
12.  Genetalia
Ø  Tidak ada keluhan atau masalah di daerah genetalia,

13.  Pemeriksaan penunjang
a.       Pemeriksaan Urine
Hasil Laboratorium tanggal 03 April 2014

Jenis pemeriksaan
Hasil
Nilai normal
Satuan
I.Urine
* Urine rutin
    -Warna
    -Kekeruhan
    -PH
    -Glukosa
    -Protein
    -Billirubin
    -Urobilin
    -Blood
    -leucocytes
    -Nitrite
    -keton
    -spesific gravity
* Sendimen
    -Eritrosit
    -Leukosit
    -Eoitel


Kuning
Jernih
7,0
(-) neg
(-) neg
(-) neg
Normal
(-) neg
(-) neg
(-) neg
(-) neg
(-) neg
1,010
1
2
2



Kuning
Jernih
4,7-7,0
(-) neg
(-) neg
(-) neg
Normal
(-) neg
(-) neg
(-) neg
(-) neg
(-)neg
1.000-1.030
0-1
1-3
< 6















/Lpb
/Lpb
/Lpb

b.      Pemeriksaan Darah
Hasil Laboratorium pada tanggal 03 April 2014


JenisPemeriksaan
Hasil
Nilai Normal
Satuan
1. Haematologi
-Hb
-Leuco
-Diff count
-Basofil
-Fasinofil
-Batang
-Segmen
-Limfosit
-Monosit
-Hematokrit
-Trombosit

10,9*
6,55

0
0*
0*
55
44*
1*
33*
212

12.6
4,5 – 10,5

0 – 1
1 – 3
2 – 6
50 – 70
20 – 40
2 – 8
36 – 48
150 – 400


g/dL
103sel/uL

%
%
%
%
%
%
%           
103sel/uL
2. Kimia darah
-SGPT
-SGOT
-Glukosasewaktu

18
19
91,4

<36
<35
70-110

U/L
U/L
mg/dL
3.Immunulogi seralogi
-Widal test
-H
-AH
-O
-AO



1/160*
1//160*
1/80
1/80



1/80
1/80
1/80
1/80

                                   
Therapy klien
1.      Therapy oral :
·         Paracetamol 2 x 500 mg tab
·         Dulcolax susp 5 mg
2.      Therapy inject :
·         Ceftriaxone 2 x 1 gr melalui intra vena (iv)
·         Ondansetron  2 x 4 mg melalui intra vena (iv)
·         Ranitidine 2 x 25 mg melalui intra vena (iv)
·         Infus RL 500 cc dalam 8 jam, 20 tpm
2)      Analisa data
No
Data
Etiologi
Masalah
1
DS : Klien mengatakan demam semenjak 4 hari yang lalu
DO  :
S : 380C
Wajah tampak kemerahan,
Ekstrimitas atas tampakklien berkringat
Hasil pemeriksaan widal
(+)
Kuman salmonella thypi  dan parathypi masuk ke dalam saluran pencernaan

Invasi kuman salmonella thypi

Sebagian di musnahkan oleh asam lambung

Menyerang vili usus halus

Masuk ke peredaran darah

Respon peradangan oleh endotoksin

Demam

Peningkatan suhu tubuh (hipertermi)
Peningkatan  suhu tubuh (hipertermi)
2
DS : Klien mengatakan mual dan tidak nafsu makan.
DO :
klien tampak lemas, konjungtiva anemis,
klien hanya menghabiskan  6 sendok makan atau ½ porsi

Kumah salmonella thypi  dan parathypi masuk ke dalam saluran pencernaan
 

Invasi kuman salmonella thypi

Sebagian di musnahkan oleh asam lambung

Mengekresikan asam lambung berlebih

Merangsang rasa mual di medulla oblongata

Anoreksia

Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
3
DS : Klien mengatakan cemas dan khawatir dengan penyakitnya
DO:
Klien tampak lemas, klien dan keluarga klien sering menanyakan tentang penyakitnya, nadi cepat 110x/menit
Kurangnya pengetahuan pasien tentang penyakitnya

Merupakan stressor psikologis

Cemas
Cemas
4
DS : Klien mengatakan tidak bisa BAB semenjak 2 hari yang lalu
DO :
teraba massa di perut bagian bawah ,
bising usus 9x/menit
os belum  BAB sejak di RS
Kuman salmonella thypi dan parathypi masuk ke saluran pencernaan
 

Sebagian di musnahkan oleh asam lambung

Menyerang vili usus halus

Masuk ke peredaran darah

Respon peradangan oleh endotoksin

Demam
 

Meningkatkan permeabilitas kapiler

Meningkatkan penyerapan air berlebih

Absorpsi air di usus berlebih

Feces keras

Konstipasi

Gangguan eliminasi BAB
Gangguan eliminas BAB (konstipasi)



3)      Diagnosa Keperawatan Yang Muncul Berdasarkan Prioritas
Setelah  merumuskan analisa data di dapatkan diagnose yang muncul berdasarkan masalah klien adalah :
1.      Peningkatan  suhu tubuh (Hipertensi ) berhubungan dengan proses infeksi bakteri salmonella thypi
2.      Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan  dengan  intake yang tidak adekuat (anoreksia)
3.      Cemas berhubungan  dengan kurangnya pengetahuan klien tentang penyakitnya
4.      Gangguan eliminasi BAB (konstipasi) berhubungan dengan peningkatan reabsorpsi cairan di usus.









4). Rencana asuhan keperawatan
NO
Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasional
1
Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan proses infeksi salmonella thypi
Di tandai dengan :
DS : klien mengatakan demam semenjak 4 hari yang lalu
DO:
-          klien tampak lemas
-           mukosa bibir kering
-           kulit kemerahan
-          klien tampak berkringat,
TTV :
TD : 130/90 MmHg
N  : 110 x/ menit
Rr : 22x/menit
S  : 380C
Tujuan umum :
Setelah di lakukan perawatan suhu tubuh dapat menurun
Tujuan khusus :
Setelah di lakukan asuhan keperawatan selama 1 x 24 jam di harapkan suhu tubuh menurun
Dengan kretria hasil :
·         Klien tampak segar
·         Mukosa bibir lembab
·         Kulit tidak kemerahan
·         Suhu tubuh dalam batas normal (36–370c)

1.    Lakukan pendekatan kepada klien



2.   Kaji tingkat kesadaran dan keadaan umum pasien


3.   Kaji penyebab peningkatan suhu tubuh.
4.   Beri kompres air hangat pada kening. Ketiak, dan daerah lipatan paha.













5.   Anjurkan  klien minum sesuai kebutuhan dan teratur

6.   Observasi tanda tanda vital klien


7.   Anjuran klien menghindari aktivitas berlebih.


8.   Kolaborasi dengan tim medis dalam memberikan cairan infus atau pariental
9.   Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat anti piretik dan antibiotik
1.      Memberikan rasa nyaman terhadap klien serta agar timbil rasa percaya serta keterbukaan klien terhadap tenaga kesehatan
2.      Mengetahui keadaan umum klien sehingga perawat dapat menganalisa adanya penurunan tingkat kesadaan.
3.      Mengetahui penyebab peningkatan suhu tubuh

4.      Mengompres dengan air hangat dapat menimbulkan vasodilatasi pori pori karena dengan adanya rangsangan dari luar, saraf mengirimkan implus ke hipotalamus sehingga menyebabkan pelebaran pembuluh darah di kulit membuat lebih banyak darah mengalir ke area tersebut dan menyebabkan panas terlepas dari permukaan kulit sehingga membantu menurunkan demam.

5.      Minum yang banyak dapat membantu menurunkan demam dan mengganti cairan yang hilang

6.      Mengetahui keadaan vital klien

7.      Mengistirahatkan atau meminimalisir kerja organ tubuh sehingga peningkatan panas dapat di kurangi

8.      Cairan infus berguna untuk memenuhi kebutuhan cairan dalam tubuh.

9.      Obat antipiretik dapat menurunkan demam dan antibiotic untuk mengatasi infeksi salmonella thypi
2
Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat (anoreksia)
Di tandai dengan :
DS : Klien mengatakan tidak nafsu makan
DO :
-          Klien tampak lemas
-          Wajah klien tampak pucat
-          Konjungtiva anemis
-          Berat badan menurun
-          Klien hanya menghabiskan  6 sendok makan atau ½ porsinya
-          Tanda tanda vital
TD : 130/90 MmHg
N  : 110x/menit
Rr : 22x/menit
S  : 380C
Tujuan umum :
Setelah di lakukan  perawatan nafsu makan bertambah
Tujuan khusus :
Setelah di lakukan asuhan keperawatan selama 1 x 24 jam di harapkan klien menghabiskan 1 porsi penuh makanannya.
Dengan kriteria hasil :
-          Klien tampak segar
-          Wajah klien tidak pucat
-          Nafsu makan bertambah
-          Berat badan naik
-          Porsi makan dapat di habiskan
-          Tanda tanda vital dalam  rentan  normah
1.   Lakukan pendekatan kepada klien



2.   Kaji keadaan  umum klien
3.   Kaji makanan yang di sukai dan tidak di sukai klien





4.   Pantau berat badan klien selama 3 hari
5.   Anjurkan klien memakan makanannya selagi hangat
6.   Observasi tanda tanda vital
7.   Dorong makan sedikit sedikit tapi sering




8.   Jelaskan pentingnya intake nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan penyakit.
9.   Berikan terapi cairan infus


10.  Kolborasi dengan tim medis untuk memberikan therapy obat penambah  nafsu makan.

11.  Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan diit tinggi serat dan rendah garan.
1.      Memberikan rasa nyaman terhadap klien serta agar timbil rasa percaya serta keterbukaan  klien terhadap tenaga kesehatan
2.      Mengetahui  keadaan umum  klien
3.      Dapat mengantisipasi pemberian diit kepada pasien agar pemberian diit dan pemasukan nutrisi dapat  maksimal kecukupan gizi dapat di ketahui dengan melakukan penimbangan
4.      Mengetahui perkembangan berat badan klien
5.      Membangkitkan nafsu makan klien.

6.      Mengetahui tanda tanda vital klien
7.      Dapat mempengaruhi pilihan diit dan mengidentifikasi area pemecahan  masalah  untuk meningkatkan  pemasukan/ penggunaan nutrient
8.      Membantu keluarga klien dapat  mengerti dan semakin  mendukung  intake nutrisi lebih adekuat

9.      Membantu menambah cairan tubuh yang hilang akibat euaporasi

10.  Membantu menambah nafsu makan klien dapat mengetahui perkembangan klien dan memberikan diit yang sesuai dengan kebutuhan.
11.  Diit rendah serat dapat memudahkan proses pencernaan  makanan dan penyerapan oleh usus halus sehingga mengurangi kerja usus halus
3
Gangguan rasa aman (cemas) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien tentang penyakit
DS : Klien mengatakan cemas dan khawatir akan penyakitnya
DO :
-       Klien tampak cemas
-       Klien tampak gelisah
-       klien dan keluarga klien sering menanyakan penyakitnya
-          klien merasa penyakitnya semakin parah
-          nadi cepat (tachycardia) 110x/menit.
Tujuan umum :
Setelah di lakukan perawatan klien tampak tenang
Tujuan khusus :
Setelah di lakukan asuhan keparawatan selama 1x24 jam kepada klien, klien di harapkan rasa aman terpenuhi
Dengan kriteria hasil :
·      cemas berkurang / hilang
·      klien tampak tenang
·      klien dan keluarganya mengarti tentang penyakitnya
·      klien tidak merasa penyakitnya semakin parah
·      nadi dalam rentan normal (60 s/d 100)
1.      bina hubungan saling percaya dengan klien dan keluarganya,


2.      kaji tingkat kesemasan klien

3.      berikan penjelasan tentang penyakit, penyebab, dan pengobatannya.
4.      Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi
5.      Batasi jumlah pengunjung.
6.      Anjurkan keluarga untuk selalu menemani klien
1.      memberikan rasa aman terhadap klien serta agar timbul rasa percaya serta keterbukaan  klien terhadap tenaga kesehatan
2.      mengetahui tingkan kecemasan yang di alami klien
3.      agar klien mengerti dan dapat melakukan pencegahan dengan mandiri

4.      agar klien tenang dan mempercepat pengobatan
5.      menciptakan rasa aman klien
6.      agar klien merasa aman karena mendapatkan perlindungan.
4
Gangguan pola eliminasi BAB (konstipasi) berhubungan dengan peningkatan reabsorpsi cairan di usus halus
Di tandai dengan :
DS : Klien mengatakan tidak bias bab semenjak 2 hari yang lalu
DO :
-       klien belum ke kamar mandi untuk bab
-       teraba massa di daerah perut bawah,
-       perut tampak kembung
-       bising usus 9x/menit
-       aktivitas di bantu
-       tanda tanda vital:
TD : 130/90 MmHg
N  : 110x/menit
Rr : 22x/menit
S  : 380C
Tujuan umum :
Setelah di lakukan perawatan klien dapat bab secara normal
Tujuan khusus :
Setelah di lakukan asuhan keperawatan kepada klien selama 1x24 jam di harapkan kebutuhan eliminasi klien dapat terpenuhi
Dengan kriteria hasil :
·      BAB normal
·      Tidak terdapat massa di daerah perut bawah
·      Perut tidak kembung
·      Bising usus dalam rentan normal
·      Aktivitas dapat di lakukan secara mandiri
·      Tanda tanda vital dalam rentan normal
1.      Kaji kebutuhan eliminasi klien
2.      Anjurkan klien untuk minum air hangat

3.      Monitoring bising usus.
4.      Monitoring feces, frekuensi, konsistensi dan volume.
5.      Monitor resiko adanya tanda dan gejala rufture usus / peritonitis
6.      Identifikasi factor penyebab dan konstribusi konstipasi
7.      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat laktatif
8.      Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diit tinggi serat.
1.      Mengetahui kebutuhan eliminasi klien
2.      Membantu melunakkan makanan yang sudah di cerna
3.      Mengetahui adanya perubahan bising usus
4.      Mengetahui perubahan eliminasi

5.      Mengetahui penyabab dan komplikasi yang mungkin timbul.

6.      Mengetahui penyebab konstipasi


7.      Untuk melunakkan dan merangsang peristaltic usus sehingga klien dapat buang air besar (BAB)
8.      Untuk membantu mengurangi penyerapan air di usus halus










5). Implementasi
Hari/tanggal
waktu
No.Dx
Implementasi
Paraf
Kamis 3 april 2014
(dinas siang)
14.15







14.32





14.46






15.00





15.27







15.39






16.00





16.43






17.00








18.00










18.05








18.10








19.00


1,2,3,4







1,2,3,4





1






3





4







2






4





1






1,2,3,4








1










2








4








3



1.   Melakukan pendekatan kepada klien
Respon :
DS: Klien mengatakan percaya terhadap tindakan perawat
DO : Klien dapat berkomunikasi dengan baik terhadap perawat
2.      Mengkaji tingkat kesadaran dan keadaan umum klien
Respon :
DS :
DO: Keadaan umum lemas, tingkat kesadaran composmetis
3.      Mengkaji penyebab peningkatan suhu tubuh
Respon :
DS :Klien mengatakan tidak mengetahui penyebab suhu tubuh meningkat
DO : klien tampak kebingungan
4.      Mengkaji tingkat kecemasan klien
Respon :
DS : Klien mengatakan khawatir dengan penyakitnya
DO : Klien tampak cemas
5.   Mengkaji kebutuhan eliminasi klien
Respon :
DS : Klien mengatakan tidak bias bab dari 2 hari yang lalu
DO : Klien tidak terlihat ke kamar mandi untuk bab hanya berbaring di tempat tidur.
6.      Menganjurkan  klien makan makanan selagi hangat
Respon :
DS : Klien mengatakan nafsu makannya bertambah
DO: Klien menghabiskan 10 sendok makan dari porsinya.
7.      Menganjurkan klien untuk minum air hangat
Respon:
DS:
DO: reaksi dari intervensi tidak terlihat
8.      Memberikan kompres air hangat pada kening, ketiak dan daerah lipatan paha
Respon :
DS: Klien mengatakan  panas di badannya sudah berkurang
DO: Suhu tubuh  klien menurun
9.      Mengobservasi tanda tanda vital
Respon:
DS:
DO:
TD: 130/90 MmHg
N  :110x/menit
Rr : 22x/menit
S  :380C
10.  Membantu perawat dalam pemberian terapi obat antipiretik dan antibiotic berupa : paracetamol 3x500 mg(oral), ceftriaxone 2x1 gr (iv)
Respon:
DS: Klien mengatakan suhu tubuh menurun setelah di beri obat
DO: Suhu 37,60C
11.  Membantu perawat memberikan terapi obat mual ondansetron 2x4 mg (iv)
Respon :
DS: klien mengatakan setelah di beri obat rasa mual berkurang
DO: nafsu makan bertambah
12.  Membantu perawat memberikan terapi obat laktatif berupa dulcolox susp
Respon:
DS : Klien mengatakan dapat BAB setelah di beri obat
DO : Tidak terdapat massa di perut bawah
13.  Memberikan penjelasan tentang penyakit thypoid penyebab dan pengobatannya
Respon:
DS: Klien mengatakan tidak terlalu cemas dengan penyakitnya
DO: klien tampak tenang nadi :100x/menit

Jumat 4 april 2014 (dinas siang)
14.15






14.32





15.00






15.27










16.00






17.00








17.20






18.00










18.05








1,2,4






1,2,4





1






2










1






1,2,4








4






1










2
1.      Melakukan pendekatan kepada klien
Respon :
DS: Klien mengatakan  percaya terhadap tindakan perawat
DO : Klien dapat berkomunikasi dengan baik terhadap perawat
2.      Mengkaji tingkat kesadaran dan keadaan umum klien
Respon :
DS :
DO: Keadaan umum lemas, tingkat kesadaran  composmetis
3.      Mengkaji peningkatan suhu tubuh
Respon :
DS: klien mengatakan badannya tidak demam lagi
DO: Suhu tubuh  klien menurun suhu 37,60C
4.      Mencatat status nutrisi pasien, turgor kulit, berat badan,riwayat mual/muntah dan diare
Respon:
DS: Klien mengatakan nafsu makan bertambah
DO: status nutrisi bertambah, berat badan 64 kg, riwayat mual ada, muntah tidak ada, diare tidak ada.
5.Memberikan kompres air hangat pada kening klien
Respon :
DS: Klien mengatakan tubuhnya  tida terlalu demam lagi./ menurun
DO:  suhu klien 370C
6.      Mengobservasi tanda-tanda vital
Respon:
DS :
DO:
TD: 130/80 MmHg
N : 100x/menit
S : 370C
Rr: 22x/menit
7.      Mengkaji kebutuhan eliminasi klien
Respon :
DS : Klien mengatakan sudah bias BAB seperti biasanya
DO : Tidak terdapat massa di bagian perut bawah
8.      Membantu perawat dalam memberikan obat antipiretik dan antibiotic berupa: paracetamol 3x500 mg (oral), ceftriaxone 2x1 gr (iv)
Respon :
DS: Klien mengatakan badannya sudah tidak demam lagi setelah di beri obat
DO :  Suhu tubuh klien 370C
9.      Membantu perawat memberikan terapi obat mual berupa ondansetron 2x4 mg (iv)
Respon :
DS: Klien mengatakan rasa mual berkurang
DO : Nafsu makan klien bertambah

Sabtu 3 april 2014 (dinas siang)
14.15








14.32





15.00











16.00








17.55










18.00








1,2








1,2





2











1,2








1,2










1
1.      Melakukan pendekatan kepada klien
Respon :
DS: Klien mengatakan percaya terhadap tindaka perawat
DO:  klien dapat mengungkapkan perasaannya dan dapat memberi informasi dengan jelas.
2.      Mengkaji tingkat kesadaran dan keadaan umum klien
Respon :
DS :
DO : Keadaan umum baik, kesadaran composmetis
3.      Mencatat status nutrisi klien, turgor kulit,berat badan dan riwayat mual/muntah dan diare
Respon :
DS : Klien mengatakan nafsu makannya  semakin bertambah
DO : Nutrisi klien bertambah, turgor kulit baik, berat badan 64 kg, riwayat mual berkurang muntah tidak ada, diare tidak ada.
4.      Mengobservasi tanda tanda vital
Respon :
 DS :
DO :
TD : 130/90 MmHg
N  : 92x/menit
S  : 36,50C
Rr : 22x/menit
5.      Membantu perawat dalam memberikan obat antipiretik dan antibiotic berupa: paracetamol 3x500 mg (oral), ceftriaxone 2x1 gr (iv)
Respon :
DS: Klien mengatakan badannya sudah tidak demam lagi setelah di beri obat
DO :  Suhu tubuh klien 36,50C
6.      Membantu perawat memberikan terapi obat mual berupa ondansetron 2x8mg (iv)
Respon :
DS: Klien mengatakan rasa mual sudah tidak ada
DO :Klien tampak segar dan nafsu makan klien bertambah



6). Evaluasi
Hari/ tanggal
No. Dx
Catatan perkembangan
Paraf
Kamis 3 april 2014 (siang)
1










2










3











4



S : Klien mengatakan demam, setelah di beri obat panas menurun kemudian naik lagi
O: 
·         Keadaan umum lemah
·         Klien mengeluarkan keringat
·         Terpasang infus RL 20 tpm
·         Suhu bada 380C
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi di lanjutkan

S : Klien mengatakan tidak nafsu makan
O :
·         Klien tampak lemas
·         Wajah klien tampak pucat
·         Berat badan menurun
·         Klien hanya menghabiskan 6 sendok makan atau ½ porsinya
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi di lanjutkan

S : Klien mengatakan cemas dan khawatir dengan penyakitnya
O :
·         Klien tampak cemas
·         Klien dan keluarganya sering menanyakan penyembuhan penyakitnya
·         Nadi cepat (tachycardia) 110x/menit
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi di lanjutkan

S : Klien mengatakan tidak bias BAB semenjak 2 hari yang lalu
O :
·         Teraba massa di daerah perut bawah
·         Perut tampak kembung
·         Bising usus 9x/menit
·         Aktivitas di bantu
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi di lanjutkan



Jumat 4 april 2014 (siang)
1









2











3












4



S :Klien  mengatakan demamnya sudah menurun
O: 
·         Keadaan umum sedang
·         Keringat klien berkuranh
·         Terpasang infus RL 20 tpm
·         Suhu bada 37,60C
A : Masalah teratasi sebagian
P : Intervensi di lanjutkan

S : Klien mengatakan nafsu makan sudah  bertambah dari pada sebelumnya
O :
·      Keadaan umum sedang
·         Wajah klien tidak terlalu pucat
·         Berat badan masih sama 64 kg
·         Klien menghabiskan 10 sendok makan dalam 1  porsinya
A : Masalah teratasi sebagian
P : Intervensi di lanjutkan

S : Klien mengatakan sudah tidak  cemas dan khawatir dengan penyakitnya  setelah di beri penjelasan oleh perawat
O :
·         Klien tidak tampak cemas lagi
·         Klien dan keluarganya tidak menanyakan lagi tentang penyembuhan penyakitnya
·         Nadi normal 92x/menit
A : Masalah teratasi
P : Intervensi di hentikan

S : Klien mengatakan  sudah bias BAB seperti biasanya
O :
·         Tidak teraba massa di daerah perut bawah
·         Perut tidak kembung
·         Bising usus 11x/menit
·         Sudah bias beraktivitas sendiri namun tangan kiri di batasi oleh selang infus
A : Masalah teratasi
P : Intervensi di hentikan

Sabtu 5 april 2014 (siang)
1











2
S : Klien mengatakan sudah tidak demam lagi, badan tidak terasa panas lagi
O: 
·         Keadaan umum baik
·         Klien tidak tampak berkeringat lagi
·         Terpasang infus RL 20 tpm
·         Suhu bada 36,50C
A : Masalah teratasi
P : Intervensi dihentikan

S : Klien mengatakan nafsu makan bertambah
O :
·         Keadaan klien baik
·         Wajah klien sudah tidak pucat
·         Berat badan masih sama 64 kg
·         Klien menghabiskan1  porsi makannya
·         TD : 120/90 MmHg
·         N  : 92x/menit
·         S  : 36,50C
·         Rr : 22x/menit
A : Masalahteratasi
P : Intervensi di hentikan

Dokter menganjurkan agar klien di rawat di rumah atau klien sudah bias pulang.






























BAB IV
PENUTUP

1.1  Kesimpulan
Setelah penulis melaksanakan Asuhan Keperawatan pada Tn.S dengan Demam Thypoid yang di mulai dari tangga 3 april 2014 sampai dengan 5 april 2014 di ruangan Flamboyan kelas III di Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong. Maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa :
1.      Pengkajian
Pengkajian klien Tn.S dengan demam Thypoid, meliputi :
b.      Keluhan Utama
Pada saat pengkajian klien mengatakan merasa lemas, demam, serta mual.
c.       Riwayat Kesehatan
1)      Merasa lemas, demam, serta mual.
2)      Tidak  Pernah mengalami penyakit serupa.
3)      Tidak  Mempunyai penyakit turunan
d.      Pemeriksaan Fisik
Kondisi klien sedang ( Compos Metis ).
e.       Pemeriksaan penunjang
Cek Lab Urine, Cek lab darah

2.      Diagnosa Keperawatan
Diagnosa  keperawatan yang muncul pada kasus Tn.S denga demam Thypoid yaitu sebagai berikut :
1.      Peningkatan suhu tubuh  berhubungan dengan proses infeksi dalam tubuh.
2.      Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual dan anoreksia.
3.      Gangguan  rasa aman cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit
4.      Gangguan eliminasi BAB (konstipasi) berhubungan dengan proses peradangan pada usus halus.

3.      Perencanaan
Perencanaan pada Tn.S dengan Demam Thypoid, sesuai dengan Diagnosa Keperawatan, yang meliputi :
1)      Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi dalam tubuh.
2)      Gangguan  pemenuhan  kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual dan anoreksia.
3)      Gangguan  rasa aman cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit
4)      Gangguan eliminasi BAB (konstipasi) berhubungan dengan proses peradangan pada usus halus.

4.      Implementasi
Implementasi pada Tn.S dengan Demam Thypoid dilakukan berdasarkan perencanaan yang di dalam nya rasional (tujuan).
1.         Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi dalam tubuh.
a)        Observasi tanda-tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah, pernafasan)
b)        Anjurkan klien untuk banyak minum.
c)        Berikan kompres hangat.
d)       Berikan cairan intra vena dan obat-obatan sesuai program dokter.
2.         Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual dan anoreksia.
·         Kaji keluhan mual yang dialami klien.
·         Berikan makanan yang mudah di telan.
·         Catat jumlah/ porsi makan yang di habiskan oleh klien setiap hari.
·         Berikan obat-obatan antiemertik sesuai program dokter
3.   Gangguan  rasa aman nyaman cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit
·         Kaji tingkat kecemasan klien
·         Memberikan penyelasan tentang penyakitnya
4.   Gangguan  eliminasi BAB (konstipasi) berhubungan dengan proses peradangan pada usus halus.
·         Kaji kebutuhan eliminasi klien
·         Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat laktatif.

5.      Evaluasi
a.       Suhu tubuh kembali normal.
b.      Teratasinya pemenuhan kebutuhan nutrisi
c.       Teratasinya rasa cemas
d.      Teratasinya pemenuhan eliminasi BAB